Minggu, 14 September 2014

puasa batin dan assesorinya



PUASA BATIN DAN
IMPLIKASI KESALEHAN
Mahmud Suyuti
Dosen Hadis dan Kepala Laboratorium Hadis
UIM Makassar


Puasa merupakan salah satu rukun Islam, wajib dilaksanakan pada setiap Ramadhan. Puasa wajib ini ditetapkan tahun kedua Hijriah, sesudah turunnya perintah salat dan zakat. Puasa dalam bahasa Al-Qur’an disebut al-shaum atau al-shiam, yakni menahan diri sebagai mana yang disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah/2:183. Menahan diri dari makan dan minum serta berhubungan biologis dengan pasangan sejak terbitnya fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat dan syarat-syarat tertentu, disebut puasa zahir. Menahan diri dari sifat dan sikap mazmumah (buruk) seperti dusta, hasad dengki, dan perbuatan tercelah lainnya disebut puasa batin.
Puasa zahir merupakan puasa orang awam yang kadar standarnya adalah fiqih. Jika syarat dan rukunnya telah ditepati, sudah sah dan tidak salah sesuai dengan ketentuan fikih yang diukur dengan kapasitas orang awam kebanyakan. Sedangkan puasa batin, merupakan puasa orang khusus yang tidak sekedar menahan lapar dan haus, tetapi juga menjaga akhlak dan perilakunya sehari-hari, sehingga meningkat menjadi puasa yang disebut khawasul khawas, yakni puasa khusus-spesifik atau hakikat puasa merupakan puasa orang-orang sufi, para auliya, dan para nabi, yang tidak cukup hanya dengan memenuhi ketentuan fikih, tetapi juga menjaga konsistensi dalam mengontrol hati dan pikirannya untuk berma’rifatullah secara terus menerus, seoptimal mungkin lidahnya dipenuhi dengan kalimat-kalimat pujian, subhanallah dan tasbih untuk Allah, shalawatan dan tahlil untuk Rasulullah saw, khatam al-Qur’an-menammatkan bacaan Al-Qur’an 30 juz di bulan Ramadhan.
Bagi kaum khawasul khawas, puasa bukan sekedar tidak makan-minum pada siang hari tetapi juga lebih mengutamakan mengurangi porsi makan malam di bulan Ramadhan, bahkan mereka juga mengurangi tidur di siang hari dan mengisinya dengan berbagai amalan seperti yang disebutkan tadi ditambah dengan qiyamul lail, yakni salat tarwih secara khusyu’ dan berzikir sebanyak mungkin terutama pada malam ganjil ke-21,23,25 dan 27 menyambut laylatul qadri, suatu malam yang setara dengan seribu bulan. Lazimnya, tatacara salat tawih dan lafaz zikir tersebut, silsilahnya bersambung dari dan kepada Nabi saw yang diyakini menimbulkan spirit kuat-tembus ke Arasy, apalagi jika hal itu dilaksanakan secara berjamaah dan dipimpin seorang syekh-mursyid.
Implikasi dari puasa batin bermuara pada implementasi iman, Islam dan ihsan yang membentuk tiga kesalehan utama, yaitu kesalehan spiritual imaniyah, kesalehan ritual ubudiyah, dan kesalehan moral akhlakiyah.
Kesalehan spiritual-imaniyah tercermin pada sikap konsisten pada nilai-nilai tauhid yaitu pengakuan akan KemahaEsaan Allah dalam semua aspek-Nya, tidak menggantungkan harapan, dambaan dan sembahan kecuali kepada Allah semata; tegar, penuh optimisme dan tidak mudah goyah, tidak gampang cemas, apalagi stress, menghadapi gelombang kehidupan karena yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah senantiasa menyertainya.
Kesalehan ritual ubudiyah tercermin pada ketaatan dalam melaku-kan aktifitas ibadah, yang karena itu saat dan pasca Ramadhan ibadah seharusnya semakin meningkat kualitas maupun kuantitasnya, sebab ibadah merupakan wadah komunikasi yang efektif bagi hamba dengan Tuhannya, ibadah juga sebagai pilar dari bangunan keislaman sekaligus sebagai jantung dan gerak nadi kehidupannya.
Kesalehan moral-akhlakiyah tercermin untuk senantiasa menahan diri dari perangai mazmumah sehingga muncul berbagai kebaikan (ihsan) dari segi ucapan, tindakan, pikiran dan hatinya, muncul pula jiwa kebersamaan, saling memberi dan menerima, saling menolong dan menghormati hak maupun kewajiban. Inilah makna mendasar dari salah satu sabda Nabi saw yang artinya Sesungguhnya aku hanya diutus untuk menyempurnakan akhlak - budi pekerti yang mulia.
Dengan demikian, seseorang yang menjalankan puasa batin akan menemukan halawatul iman (manisnya iman), zatul Islam (lezatnya Islam), dan zakiyul akhlak (kesucian akhlak). Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.



MARHABAN YĀ RAMADHĀN DAN
AKSESORI PUASA
Mahmud Suyuti
Dosen Hadis dan Kepala Laboratorium Hadis
UIM Makassar


Umat Islam pada umumnya, mentradisikan ucapan Marhaban Yā Ramadhān menyambut bulan Ramadhan, baik melalui lisan, tulisan surat, dan saat ini banyak melalui SMS (Short Message Service) dengan menggunakan HP (HandPone), atau media lain seperti FB (FaceBook), dan Twitter.
Marhaban Yā Ramadhān mengandung arti “Selamat datang Ramadhan”, searti dengan “Ahlan wa Sahlan” yang dalam bahasa Arab berarti “Selamat datang”. Walaupun keduanya berarti selamat datang, tetapi penggunannya berbeda. Umat Islam tidak menggunakan Ahlan wa Sahlan untuk menyambut datangnya Ramadhān, melainkan Marhaban Yā Ramadhan, sebab marhaban adalah kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu yang akan datang searti dengan kata ahlan sebagaimana yang disebutkan tadi. Dari sini kemudian muncul pertanyaan, kenapa Ramadhān harus disambut dengan kata marhaban bukan kata ahlan. Jawabannya, sebab arti dasar ahlan adalah keluarga, sementara arti dasar marhaban adalah luas atau lapang. Dipahami bahwa Ramadhan adalah bulan, bukan keluarga, maka penggunaan kata ahlan padanya tidak tepat, sehingga digunakanlah kata marhaban untuk menyambut bulan suci Ramadhan yang dengannya diharapkan agar jiwa raga ini lebih leluasa dan lapang dalam menjalankan ibadah puasa Ramadhān.
Aplikasi Marhaban yā Ramadhān menjadikan umat Islam lebih dapat ber-taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepada Tuhan), dan lebih berkesempatan memperbanyak amal saleh, sebab selain berpuasa di bulan Ramadhan, mereka juga rajin ke mesjid salat berjama'ah terutama tarwih, di luar Ramadhan tidak ada moment demikian. Di bulan Ramadhān, mereka banyak mendengarkan tausiyah keagamaan melalui ceramah, di luar Ramadhan tidak demikian halnya. Di bulan Ramadhān, mereka terbiasa untuk bangun dipertiga malam terakhir untuk makan sahur dan ini merupakan latihan untuk selanjutnya di luar Ramadhān akan terbiasa bangun tengah malam untuk tahajjud. Di bulan Ramadhān, mereka terbiasa menahan dari segala yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar dan berbuka saat terbenamnya matahari, dan ini sebagai latihan kedisiplinan waktu untuk selanjutnya pasca Ramadhān akan terbiasa hidup disiplin, terutama disiplin waktu dalam beribadah.
Ibadah yang diperintahkan Allah, terdiri atas dua kategori, yaitu ibadah wajib atau primer dan ibadah sunnat atau sekunder. Sesuatu yang disebut wajib harus dikerjakan, tidak boleh ditinggalkan. Puasa Ramadhan merupakan ibadah dalam kategori wajib, yang dilengkapi amalan sunnat sebagai aksesori puasa dan dianggap sebagai unsur pelengkap. Jika puasa diibaratkan sebuah rumah, maka mesti memiliki unsur utama dan unsur pelengkap. Unsur utamanya adalah semua bagian-bagian yang penting seperti pondasi, tiang, dinding, atap, pintu, dan jendela. Unsur pelengkapnya adalah perabot-perabot, atau apa yang sekarang disebut aksesori seperti kursi dan meja tamu, tempat tidur, lemari, TV, AC, dan kulkas. Demikianlah pula puasa, selain harus memiliki unsur utama, juga harus dilengkapi dengan aksesori yang menyenangkan.
Unsur utama puasa adalah, menahan makan dan minum, serta menahan diri untuk berhubungan intim suami-istri. Sedangkan aksesorinya seperti qiyamul lail (salat tarwih), membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedakah, i’tikaf di Mesjid, menghidupkan lailatul qadr pada malam-malam ganjil.
Aksesori rumah bagi setiap orang bisa berbeda-beda, ada orang yang rumahnya lengkap dengan perabot-perabotnya, ada yang sedang, ada yang kurang, bahkan ada sangat minim. Demikian pula puasa setiap orang berbeda-beda, ada yang lengkap aksesorinya dan sebagiannya sedang atau bahkan minim layaknya seseorang salat tarwih delapan rakaat dalam kategori aksesori minim, bagi yang duapuluh rakaat aksesori sedang, dan jika ditambah dengan zikiran dan amalan lain yang mendukung dapat dikategorikan beraksesori lengkap. Demikian seterusnya, semakin banyak bersedekah, dan beri’tikaf di Mesjid, serta memperbanyak ibadah pada malam-malam ganjil, semakin banyak pula aksesori puasanya, praktis bahwa pahala yang diperolehnya semakin banyak pula.
Ramadhan yang sisa beberapa hari lagi akan tiba, mari kita sambut dengan lapang dada penuh keikhlasan, Allahumma bariknā biRamadhān (ya Allah berkahilah kami dengan datangnya Ramadhan), dan dengan lapang hati penuh keimanan mari kita memperbanyak aksesori puasa.  Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar