PUASA BATIN DAN
IMPLIKASI KESALEHAN
Mahmud Suyuti
Dosen Hadis dan
Kepala Laboratorium Hadis
UIM Makassar
Puasa merupakan salah satu rukun Islam, wajib
dilaksanakan pada setiap Ramadhan. Puasa wajib ini ditetapkan tahun kedua
Hijriah, sesudah turunnya perintah salat dan zakat. Puasa dalam bahasa
Al-Qur’an disebut al-shaum atau al-shiam, yakni menahan diri
sebagai mana yang disebutkan dalam Q.S. al-Baqarah/2:183. Menahan diri dari
makan dan minum serta berhubungan biologis dengan pasangan sejak terbitnya
fajar sampai terbenamnya matahari dengan niat dan syarat-syarat tertentu,
disebut puasa zahir. Menahan diri dari sifat dan sikap mazmumah
(buruk) seperti dusta, hasad dengki, dan perbuatan tercelah lainnya disebut
puasa batin.
Puasa
zahir merupakan puasa orang
awam yang kadar standarnya adalah fiqih. Jika syarat
dan rukunnya telah ditepati, sudah sah dan tidak salah sesuai dengan ketentuan
fikih yang diukur dengan kapasitas orang awam kebanyakan. Sedangkan puasa
batin, merupakan puasa orang khusus yang tidak sekedar menahan lapar dan haus,
tetapi juga menjaga akhlak dan perilakunya sehari-hari, sehingga meningkat
menjadi puasa yang disebut khawasul khawas, yakni puasa khusus-spesifik atau
hakikat puasa merupakan puasa orang-orang sufi, para auliya, dan para nabi,
yang tidak cukup hanya dengan memenuhi ketentuan fikih, tetapi juga menjaga
konsistensi dalam mengontrol hati dan pikirannya untuk berma’rifatullah
secara terus menerus, seoptimal
mungkin lidahnya dipenuhi dengan kalimat-kalimat
pujian, subhanallah dan tasbih untuk Allah, shalawatan
dan tahlil untuk Rasulullah saw, khatam al-Qur’an-menammatkan bacaan Al-Qur’an 30 juz di bulan
Ramadhan.
Bagi kaum khawasul khawas, puasa
bukan sekedar tidak makan-minum pada siang hari tetapi juga lebih mengutamakan
mengurangi porsi makan malam di bulan Ramadhan, bahkan mereka juga mengurangi
tidur di siang hari dan mengisinya dengan berbagai amalan seperti yang
disebutkan tadi ditambah dengan qiyamul lail, yakni salat tarwih secara
khusyu’ dan berzikir sebanyak mungkin terutama pada malam ganjil ke-21,23,25
dan 27 menyambut laylatul qadri, suatu malam yang setara dengan seribu
bulan. Lazimnya, tatacara salat tawih dan lafaz zikir tersebut, silsilahnya bersambung dari dan
kepada Nabi saw yang diyakini menimbulkan spirit kuat-tembus ke Arasy, apalagi
jika hal itu dilaksanakan secara berjamaah dan dipimpin seorang syekh-mursyid.
Implikasi dari puasa batin bermuara pada
implementasi iman, Islam dan ihsan yang membentuk tiga kesalehan utama, yaitu
kesalehan spiritual imaniyah, kesalehan ritual ubudiyah, dan kesalehan moral
akhlakiyah.
Kesalehan spiritual-imaniyah tercermin
pada sikap konsisten pada nilai-nilai tauhid yaitu pengakuan akan KemahaEsaan
Allah dalam semua aspek-Nya, tidak menggantungkan harapan, dambaan dan sembahan
kecuali kepada Allah semata; tegar, penuh optimisme dan tidak mudah goyah,
tidak gampang cemas, apalagi stress, menghadapi gelombang kehidupan karena
yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah senantiasa menyertainya.
Kesalehan ritual ubudiyah tercermin
pada ketaatan dalam melaku-kan aktifitas ibadah, yang karena itu saat dan pasca
Ramadhan ibadah seharusnya semakin meningkat kualitas maupun kuantitasnya,
sebab ibadah merupakan wadah komunikasi yang efektif bagi hamba dengan
Tuhannya, ibadah juga sebagai pilar dari bangunan keislaman sekaligus sebagai
jantung dan gerak nadi kehidupannya.
Kesalehan
moral-akhlakiyah
tercermin untuk senantiasa menahan diri dari perangai mazmumah sehingga
muncul berbagai kebaikan (ihsan) dari segi ucapan,
tindakan, pikiran dan hatinya, muncul pula jiwa
kebersamaan, saling memberi dan menerima, saling menolong dan menghormati hak
maupun kewajiban. Inilah makna mendasar dari salah satu
sabda Nabi saw yang artinya Sesungguhnya aku hanya diutus untuk
menyempurnakan akhlak - budi pekerti yang mulia.
Dengan demikian, seseorang yang menjalankan puasa batin akan
menemukan halawatul iman (manisnya iman), zatul Islam (lezatnya
Islam), dan zakiyul akhlak (kesucian akhlak). Wallahul Muwaffiq Ila
Aqwamit Thariq.
MARHABAN YĀ
RAMADHĀN DAN
AKSESORI PUASA
Mahmud Suyuti
Dosen Hadis dan
Kepala Laboratorium Hadis
UIM Makassar
Umat Islam pada umumnya,
mentradisikan ucapan Marhaban Yā Ramadhān menyambut bulan Ramadhan, baik melalui lisan, tulisan surat, dan saat
ini banyak melalui SMS (Short Message Service)
dengan menggunakan HP (HandPone), atau media lain seperti FB (FaceBook),
dan Twitter.
Marhaban Yā Ramadhān mengandung arti “Selamat datang Ramadhan”, searti dengan “Ahlan wa Sahlan” yang dalam bahasa Arab berarti
“Selamat datang”. Walaupun keduanya berarti selamat datang, tetapi penggunannya
berbeda. Umat Islam tidak menggunakan Ahlan wa Sahlan untuk menyambut
datangnya Ramadhān,
melainkan Marhaban Yā
Ramadhan, sebab marhaban
adalah kata seru untuk menyambut atau menghormati tamu yang akan datang searti
dengan kata ahlan sebagaimana yang disebutkan tadi. Dari sini kemudian
muncul pertanyaan, kenapa Ramadhān harus disambut dengan kata marhaban
bukan kata ahlan. Jawabannya, sebab arti dasar ahlan adalah
keluarga, sementara arti dasar marhaban adalah luas atau lapang. Dipahami
bahwa Ramadhan adalah bulan, bukan keluarga, maka penggunaan kata ahlan
padanya tidak tepat, sehingga digunakanlah kata marhaban untuk menyambut
bulan suci Ramadhan yang
dengannya diharapkan agar jiwa raga ini lebih leluasa dan lapang dalam
menjalankan ibadah puasa Ramadhān.
Aplikasi Marhaban yā Ramadhān menjadikan umat Islam lebih dapat ber-taqarrub ilallah (mendekatkan
diri kepada Tuhan), dan lebih berkesempatan memperbanyak amal saleh,
sebab selain berpuasa di bulan Ramadhan, mereka juga rajin ke mesjid salat
berjama'ah terutama tarwih, di luar Ramadhan tidak ada moment demikian. Di
bulan Ramadhān, mereka banyak mendengarkan tausiyah keagamaan melalui ceramah,
di luar Ramadhan tidak demikian halnya. Di bulan Ramadhān, mereka terbiasa
untuk bangun dipertiga malam terakhir untuk makan sahur dan ini merupakan
latihan untuk selanjutnya di luar Ramadhān akan terbiasa bangun tengah malam
untuk tahajjud. Di bulan Ramadhān, mereka terbiasa menahan
dari segala yang membatalkan puasa sejak terbitnya fajar dan berbuka saat
terbenamnya matahari, dan ini sebagai latihan kedisiplinan waktu untuk
selanjutnya pasca Ramadhān akan terbiasa hidup disiplin, terutama disiplin
waktu dalam beribadah.
Ibadah
yang diperintahkan Allah, terdiri atas dua kategori, yaitu ibadah wajib atau
primer dan ibadah sunnat atau sekunder. Sesuatu yang disebut wajib harus
dikerjakan, tidak boleh ditinggalkan. Puasa Ramadhan merupakan ibadah dalam
kategori wajib, yang dilengkapi amalan sunnat sebagai aksesori puasa dan
dianggap sebagai unsur pelengkap. Jika puasa diibaratkan sebuah rumah, maka
mesti memiliki unsur utama dan unsur pelengkap. Unsur utamanya adalah semua
bagian-bagian yang penting seperti pondasi, tiang, dinding, atap, pintu, dan jendela.
Unsur pelengkapnya adalah perabot-perabot, atau apa yang sekarang disebut
aksesori seperti kursi dan meja tamu, tempat tidur, lemari, TV, AC, dan kulkas.
Demikianlah pula puasa, selain harus memiliki unsur utama, juga harus
dilengkapi dengan aksesori yang menyenangkan.
Unsur utama puasa adalah, menahan makan dan minum,
serta menahan diri untuk berhubungan intim suami-istri. Sedangkan aksesorinya
seperti qiyamul lail (salat tarwih), membaca Al-Qur’an, berzikir, bersedakah,
i’tikaf di Mesjid, menghidupkan lailatul qadr pada malam-malam ganjil.
Aksesori rumah bagi setiap orang bisa berbeda-beda, ada orang yang
rumahnya lengkap dengan perabot-perabotnya, ada yang sedang, ada yang kurang,
bahkan ada sangat minim. Demikian pula puasa setiap orang berbeda-beda, ada
yang lengkap aksesorinya dan sebagiannya sedang atau bahkan minim layaknya
seseorang salat tarwih delapan rakaat dalam kategori aksesori minim, bagi yang
duapuluh rakaat aksesori sedang, dan jika ditambah dengan zikiran dan amalan
lain yang mendukung dapat dikategorikan beraksesori lengkap. Demikian
seterusnya, semakin banyak bersedekah, dan beri’tikaf di Mesjid, serta
memperbanyak ibadah pada malam-malam ganjil, semakin banyak pula aksesori
puasanya, praktis bahwa pahala yang diperolehnya semakin banyak pula.
Ramadhan yang sisa beberapa hari lagi akan tiba, mari
kita sambut dengan lapang dada penuh keikhlasan, Allahumma bariknā
biRamadhān (ya Allah berkahilah kami dengan datangnya Ramadhan), dan dengan
lapang hati penuh keimanan mari kita memperbanyak aksesori puasa. Wallahul Muwaffiq Ila Aqwamit Thariq.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar